Bangsamoro di Mindanao : Geliat Asa Menuju Cahaya – Bagian 1

Author - August 14, 2015
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone

Bandara kota Cagayan de Oro, jam enam dini hari. Segerombolan lelaki bersenjata dengan konvoi kendaraan yang cukup panjang menjemput kami. Sungguh tak kuduga bakal bertemu “panitia penyambutan yang garang” seperti itu

Melihat kekagetanku, Joanne Gonzales (30) aktivis LSM, teman kuliah sekaligus pemanduku, malah cengar-cengir. Ia memberi isyarat agar aku segera mengikutinya masuk ke dalam salah satu mobil. Di dalam mobil, beberapa orang dengan santai meletakkan senjata mereka di bawah bangku tempatku duduk, membuatku menahan napas beberapa kali. Belum selesai kekagetanku, Joanne berkata, “Mel, kita bersama rombongan ini akan pergi ke kamp gerilyawan MILF (Moro Islamic Liberation Front).” Nun di sana, dua helikopter milik angkatan udara Filipina telah menanti untuk membawa kami ke kamp.

madrasah di kamp MILF

Madrasah di Kamp MILF

Kepergian yang Diatur Allah

Begitu mendapat beasiswa studi ke Filipina, aku langsung berniat menulis tentang Mindanao. Tak peduli berbagai berita seram yang kudengar. Keingintahuan khas jurnalis timbul di benakku, tentang apa yang sesungguhnya terjadi di sana. Keinginan menulis ini langsung kulontarkan pada teman-teman kuliah. Mereka sempat meledek, “Ngapain cari bahaya, Mel? Hehehe.” Kebanyakan lebih memilih tamasya ke Disneyland Hong Kong setelah lulus nanti. Di jurusanku, MDM (Master in Development Management) di AIM (Asian Institute of Management) aku punya empat teman yang berasal dari sana. Namun karena kesibukan, aku belum punya waktu yang pas untuk mendiskusikan rencana perjalanan. Hingga di bulan-bulan terakhir kuliah, perhatianku lebih tercurah untuk tesis. Padahal untuk dapat melakukan perjalanan ke Mindanao dibutuhkan perencanaan matang.

Persiapanku sejauh itu hanya doa dan pengayaan dari internet, kuliah di kelas dan dialog dengan orang-orang Filipina. Syukur, Allah mengabulkan doaku, karena menjelang lulus, Joanne memastikan diri menjadi pemandu. Joanne mengatur semuanya, termasuk akomodasi dan transportasi. Aku tinggal memberikan sejumlah uang dan menyatakan garis besar rencana. Yang kutahu hanya Joanne lama tinggal di Mindanao. Cukup mengejutkan ketika sampai di sana, ternyata paman dan ayah Joanne adalah tokoh berpengaruh. Sebagai oposan di zaman pemerintahan Marcos, ayah Joanne banyak dibantu kaum muslim. Tak heran, walau beragama Katholik, Joanne sekeluarga menunjukkan apresiasi terhadap Islam. Selama perjalanan, Joanne kerap menggelar sajadah dan menyediakan Al Qur’an buatku saat shalat tiba.

Konflik “atas nama Islam” kerap diidentikkan dengan Mindanao. Sesungguhnya tiada konflik disebabkan oleh agama. Konflik biasanya pecah karena ketidakadilan yang terjadi dalam kurun waktu lama. Menyoal konflik Mindanao, Joanne dan kebanyakan orang Filipina yang kutemui dengan objektif berpendapat bahwa kolonialisme lah akar penyebabnya. Kesultanan Mindanao bertahan dari penjajahan Spanyol selama tiga abad, yang membuat penjajah (Spanyol & Amerika) menggempur dengan taktik baru, yakni merampas tanah Bangsamoro dan membawa pendatang non-Muslim dari luar Mindanao secara besar-besaran. Tentu saja hal ini menerbitkan kemarahan di kalangan Bangsamoro, dan dari situ lah konflik dimulai.

Bagian 1 / Bagian 2 / Bagian 3 / Bagian 4

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *