Bangsamoro di Mindanao : Geliat Asa Menuju Cahaya – Bagian 2

Author - August 17, 2015
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone

Berkunjung ke Kamp MILF

Mindanao, menempati area 96.438 km2 atau 33% dari total wilayah negara, adalah salah satu dari tiga pulau besar di Filipina selain Visayas dan Luzon. Mayoritas penduduk Filipina beragama Katholik. Lima persennya muslim, dikenal sebagai Bangsamoro, yang terdiri dari 13 suku yakni Maranao, Maguindanao, Tausug, Samal, Yakan, Sangil, Badjao, Kalibogan, Jama Mapun, Iranun, Palawanon, Kalagan dan Molbog. Islam dibawa ke Bangsamoro oleh bangsawan Melayu di akhir abad ke-13. Maka, di Mindanao pun tumbuh kesultanan yang erat kaitannya dengan budaya Melayu dan melahirkan tokoh-tokoh seperti Sultan Sulu, Sultan Maguindanao dan Sultan Kudarat. Karena akar budaya yang sama, di sana kutemui nama-nama arsitektur dan tata cara yang serba berbau Melayu.

suasana kota marawi

Suasana Kota Marawi

Mindanao kini tentu saja dihuni oleh masyarakat yang sangat heterogen, tidak hanya oleh Bangsamoro. Konflik panjang melahirkan gerakan-gerakan perlawanan, seperti dari MNLF (Moro National Liberation Front) yang dulu dipimpin Nur Misuari. Juga menggerakkan perdamaian yang mendorong pemerintah pusat membentuk ARMM (Autonomous Region Muslim Mindanao) pada tahun 1989, yang terdiri dari lima propinsi yakni Basilan, Lanao Sur, Maguindanao, Sulu, Tawi-tawi dan sebuah kota Marawi.

Usai perjanjian perdamaian dengan pemerintah, Bangsamoro dalam ARMM dihadapkan pada berbagai tantangan; bagaimana mengatur pemerintahannya sendiri. Kendati begitu, gerakan perlawanan masih tetap ada, seperti yang kuamati ketika berkunjung ke kamp MILF, gerakan pecahan yang tidak puas dengan MNLF.

Helikopter militer tanpa pintu dengan putaran baling-baling yang menderu-deru, selama sejam menyeberangi perbukitan dan Danau Lanao yang membentang luas. Tanpa kuketahui sebelumnya, hari itu paman Joanne yang mewakili pemerintah Filipina akan mengadakan perundingan pembangunan dengan para pemimpin MILF. Walhasil, Joanne dan aku pun diajak ikut serta.

Setelah dibuat terkejut tadi pagi, aku mulai membiasakan diri dengan pemandangan orang memanggul senjata. Ketika tiba di kamp, aku berusaha berempati dengan latar belakang yang membuat mereka akrab dengan senjata. Sementara perundingan berjalan, aku dan Joanne ditempatkan di tenda perempuan. Aku bertemu dengan para istri pejuang MILF yang rata-rata menikah secara poligami. Penampilan mereka mengingatkanku akan ibu-ibu Indonesia dalam acara pengajian, namun busana muslim mereka lebih bergaya Timur Tengah, seperti rok longgar dan gamis. Dari yang kudengar, memang terjalin kerjasama kuat antara pejuang Moro dengan negara-negara Timur Tengah, seperti Libya. Komunikasi kami banyak diisi oleh senyum, tawa dan bahasa “tarzan”. Yang mengagumkan, tak kujumpai sorot mata pesimis dan tiada pembicaraan tentang kesedihan dan kekhawatiran akan masa depan keluar dari mulut mereka. “Kami ingin anak-anak kami bisa terus sekolah,” begitu asa yang terucap.

Bagian 1 / Bagian 2 / Bagian 3 / Bagian 4

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *