Bangsamoro di Mindanao : Geliat Asa Menuju Cahaya – Bagian 3

Author - August 18, 2015
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone

Perjalanan Darat yang Melangsingkan

mindanao state university

Mindanao State University

Dari kamp MILF, kami pergi ke Marawi, sebuah kota sejuk di pinggir danau Lanao. Kami bermalam di losmen dekat Mindanao State University (MSU). Paginya, Hadja Dhahara dari LSM Al Mujadilah sudah menunggu untuk berbincang dan mengantar kami mengelilingi MSU. Kebetulan bertepatan dengan National Heritage Month yang diselenggarakan MSU, jadi aku bisa melihat-lihat kerajinan khas Mindanao. Sepanjang jalan, berbeda dengan ibu-ibu di kamp MILF, para mahasiswi yang kutemui tampak mengenakan jeans dan blus kasual dengan jilbab atau kerudung disampirkan. Kehidupan kampus MSU tidak jauh berbeda dengan kampus kita di mana arus globalisasi ikut mewarnai. MSU juga punya band, kelompok penari, tim olah raga lengkap dengan cheer leader-nya. Dari situ kami menyusuri pasar tradisional dan mengelilingi kota.

Kuamati masyarakat Marawi dengan keramahannya nampak pemalu dan cenderung menunduk, menghindari kontak mata bila berbicara, juga tidak begitu senang difoto. Beberapa penjual di pasar yang kami ajak ngobrol, mengungkapkan pentingnya pendidikan, “Saya harus pintar-pintar mengatur uang. Saya ingin setidaknya anak-anak bisa lulus high school.” Aku diajak Joanne ke kafe di deretan ruko dekat kampus, yang menyuguhkan makanan cepat saji. Aku memesan nasi dengan lauk ikan bakar dan es krim. Ternyata selain murah, rasanya juga enak. Kutoleh Joanne yang sedang berdiet, hanya makan sedikit sekali.

Diet Joanne yang kerap melewatkan snack dan makan malam, mau tidak mau membuatku langsing juga hehehe. Apalagi seminggu itu kami terus-menerus melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain menempuh jalan darat dalam waktu lama, berkisar antara 3, 4 hingga 7 jam. Pernah, demi alasan keamanan, kami harus berangkat usai Subuh menuju kota lain, tanpa minum atau sarapan sama sekali. Di mobil dengan perut keroncongan kubayangkan segelas teh manis panas dan setangkup roti atau semangkuk nasi yang siap menghangatkan perut. Sarapan sederhana tiba-tiba menjadi begitu berarti, membuatku tersenyum geli menertawakan diri sendiri yang sering kurang mensyukuri hal-hal “kecil”. Kurasa Allah sedang mengajarkanku tentang empati pada saudaraku, kaum papa di sini.

davao mindanao dilihat dari pesawat

Davao Mindanao Dilihat dari Pesawat

Dari Marawi, dengan mobil sewaan kami kembali ke Cagayan de Oro, dan sempat berhenti di tengah jalan untuk menemui Baicon Macaraya yang aktif memajukan kaumnya. Kami bertolak ke Davao, ibu kota Mindanao, menempuh perjalanan malam selama 7 jam dengan bis antarkota. Kota-kota besar Mindanao, seperti Davao dan Cagayan de Oro, hampir sama dengan kota metropolitan lain, yang dipenuhi mal, restoran franchise, dan perusahaan multi nasional. Wali kota Davao dengan kebijakan kerasnya, berhasil menciptakan suasana yang aman dan tertib, demi mengembangkan bisnis dan pariwisata di kota terluas dunia yang dikenal sebagai penghasil buah duren ini. Tidak hanya Davao, tanah Mindanao memang terkenal subur, kaya akan sumber daya alam.

Bagian 1 / Bagian 2 / Bagian 3 / Bagian 4

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *