Bangsamoro di Mindanao : Geliat Asa Menuju Cahaya – Bagian 4

Author - August 19, 2015
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone

Perdamaian dan Tantangan Pembangunan

“Mungkin kami adalah bangsa combatant yang terbiasa terus bertempur. Namun di masa damai, kami jadi bingung ketika diserahi tanggungjawab untuk membangun,” tutur Mao Andong Jr yang akrab dipanggil Dato’ Benji (53) mantan pejuang MNLF, yang mengantar kami dari Kidapawan menuju Cota Bato, kota yang menjadi pusat pemerintahan dan industri agro Autonomous Region Muslim Mindanao. Otokritik ini dilontarkannya menyoal isu KKN dan rendahnya kualitas SDM di dalam tubuh pemerintahan ARMM. Tanpa sistem dan kebijakan yang jelas, orang mudah terjerat godaan KKN. Hal yang membuat sosok seidealis Nur Misuari mendekam dalam penjara.

“Ada banyak tantangan dalam mengisi pembangunan di masa perdamaian ini,” lanjut Dato’ Benji lagi. Tantangan itulah yang memicu berdirinya banyak LSM dan mendatangkan kucuran dana asing. Toh LSM muslim lokal pun (seperti Al Mujadilah) tidak mau kalah dalam memberdayakan umat. Joanne membawaku singgah ke beberapa LSM. Aku bertemu Nelia Agbon dengan National Democratic Institute-nya yang menyosialisasikan demokrasi seperti pelatihan kepemimpinan bagi perempuan. Ia juga menggalang inisiatif kepedulian dan pendidikan cinta damai bagi anak-anak.

masjid di kota marawi

Masjid di Kota Marawi

Di hari Jum’at yang penuh berkah bagi umat muslim itu, kudirikan sholat dzuhur di sebuah masjid di lingkungan kompleks pemerintahan ARMM. Setelah sebelumnya hanya melewati masjid, tapi lebih sering shalat di mushola-mushola kecil pinggir jalan, baru kali ini kuinjakkan kaki di sebuah masjid. “Ini satu dari sedikit masjid milik umum, kebanyakan masjid di sini memiliki nama sesuai pendiri dan pemiliknya,” terang Dato’ Benji dengan nada menyayangkan. Masjid tampak lengang, karena sholat Jum’at telah lama usai. Kupanjatkan doa, sebuah kontribusi yang menurutku mungkin terlalu sederhana, bagi saudara-saudaraku di tanah Mindanao ini. Seraya memandangi langit-langit masjid, entah kenapa, tanpa terasa air mata menetes. Wahai saudaraku, bergulung-gulung ombak ujian mendatangi, seperti halnya kami di Indonesia. Semoga Allah memberi ketegaran dan kesabaran dalam menghadapinya. Aamiin. Kita semua sedang berjuang terus menghidupkan asa, untuk terus berjalan menuju Cahaya.


Selama berabad-abad Bangsamoro telah melahirkan banyak perempuan tangguh. Emansipasi atau kesetaraan gender yang kini ramai digaungkan Barat, telah lama dimiliki Bangsamoro. Suku Tausug dan Maguindanao memiliki pemimpin Pangian Ampay (abad ke-18) dan Rajah Potri (abad ke-20). Abad modern memiliki Madam Santanina Rasul, senator yang terpilih di tahun 1987 dan 1992. Ada juga wali kota Tahira Esmael yang memimpin daerah Maluso, Basilan, dan ditakuti oleh Abu Sayyaf. NooR sempat berbincang dengan dua aktivis perempuan yang tak kenal lelah memajukan kaumnya.

hadja dhaharaHADJA DHAHARA DAYANG BATUAMPAR

Selain sedang merintis gelar Doktor, Hadja Dhahara juga mengajar di Mindanao State University dan mengembangkan Al Mujadilah Development Foundation, Inc. “Masyarakat, terutama perempuan Moro harus lebih disadarkan ajaran-ajaran Islam justru sangat meninggikan perempuan. Kita bersama-sama harus merealisasikan hal itu,” tegasnya. Selama ini Al Mujadilah meningkatkan pendidikan dan kesadaran tentang kesehatan reproduksi, kesetaraan gender, kepemimpinan dan kemandirian perempuan.

baicon macarayaBAICON MACARAYA

Di daerah Lanao, Baicon dikenal sebagai pemimpin tangguh. Deraan konflik panjang tidak membuat langkahnya surut. Ia menyadari, menjadi perempuan Moro, berarti harus kuat berjuang menghadapi masalah yang berlapis-lapis. Baicon menandaskan pentingnya keluarga sebagai pilar pembentuk kekuatan generasi berikut. Dengan binar mata dan senyum lebar, ia juga menyatakan suka citanya menggerakkan para perempuan di daerahnya untuk terus belajar. “Islam sesungguhnya banyak mengajarkan kaum perempuan untuk terus belajar, mengembangkan diri. Karena kemajuan perempuan, niscaya juga membawa kemajuan bagi lingkungan dan bangsanya,” yakinnya.

(Teks & Foto: Melati Adidamayanti, seperti pernah dimuat di majalah NooR tahun 2006)

Bagian 1 / Bagian 2 / Bagian 3 / Bagian 4

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *