Bromo dan 29 Jam di Kereta – Bagian 2

Author - September 7, 2015
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone

Setelah 29 jam di kereta, sampailah kami di Malang malam hari. Kunjungan ke Museum Angkut dan keliling Batu otomatis batal. Perut laperrr, badan lepek, tampang kucel. Gue niatin nanti bakal makan tiga ronde sekaligus! Bakso, nasi + soto panas mengepul-ngepul langsung terbayang. Panjang umur, begitu ke luar stasiun, gue dan Nana langsung ketemu tukang bakso. Setelah itu, Elf mewah mengantar kami ke desa wisata Gubuklakah.

Alunan lagu “Stasiun Balapan” Didi Kempott meninabobokan kami yang langsung tertidur pulas. Sampe di penginapan, briefing sebentar, dilanjutkan “bales dendam” sodara-sodara! Makan, mandi & tidur!!! Ternyata benar, kami dihidangkan soto panas. Terima kasih ya Tuhan kami bisa makan sepuasnya. Jam 1.30 dini hari kami harus siyap! Toh Nana tetap ngingetin tim untuk sholat gerhana bulan. Ya, malam itu sedang terjadi gerhana bulan. Bukan suatu kebetulan.

Hanya sejam lebih tidur kami malam itu. Buat gue kurang banget. Dasar pelorrrr wkwkwkwk. Tapi niat kuat membuat kami semua siap jam 1.30. “Peralatan perang” baju rangkap, jacket tebal, kupluk, sarung tangan, senter dll siap terpakai. Jeep terbuka mengantar kami menuju bukit Penanjakan 2 di Dukuh Seruni, dari situ kami akan melihat pemandangan Bromo Sunrise. Gujlak-gujluk jeep kami dengan gagahnya melintasi jalanan yang turun naik terjal menembus udara dingin bersuhu 2-8 derajat celcius dan gelapnya malam.

kami bertujuh di atas jeep menuju Bromo

Kami bertujuh di atas jeep

Ngos-ngosan Bagian 1 di Penanjakan 2

Setelah sekitar dua jam perjalanan, semua jeep diparkir di Dukuh Seruni. Usai urusan toilet, mulailah kami berjalan menuju atas bukit Penanjakan 2. Gue nyeselll rasanya nggak disiplin olah raga setiap hari. Gerak badan persiapan menuju Bromo emang dilakonin, tapi masih kurang sering hiks. Akibatnya, gue hanya bisa melangkah lambat-lambat. Napas ngos-ngosan, kaki dan badan terasa berat. Nana bilang itu wajar karena badan yang lelah kurang istirahat setelah lamaaa di kereta sedang menyesuaikan diri.

Beberapa yang tidak kuat memilih naik kuda. Daan setiap gue lagi diam ngatur napas, para tukang kuda dengan sigap melancarkan bujukan wkwkwkwk. Dalam hati gue yakinkan diri bisa! Nana dan Mbak Nanie menyuruh gue terus bergerak, jangan terlalu lama memanjakan si ngos-ngos hehehe. Mbak Nanie celingukan mencari Bunegara. Dengan enteng Papahnegara menjawab kalo beliau sudah dikirim ke atas wkwkwkwk, maksudnya sudah naek kuda gitu lho hehe. Rupanya Bunegara dan Mbakhani terserang sakit hingga harus berkuda ria, untungnya mereka tetap bisa ceria menikmati perjalanan.

Begitu sampai di puncak bukit Penanjakan 2 terpampanglah pemandangan indah itu: matahari terbit di antara awan-gemawan dan kabut, di atas Bromo di hamparan lautan pasir. Gue ngambil napas panjang bersyukur. Akhirnyaaa hehehe. Alhamdulillaah sampe jugaaa. Nana dan tim langsung sholat subuh. Setelah itu, foto-foto pastinya cyinn!

Bromo Sunrise 1

Bromo Sunrise 1

Jangan lupa sholat di Bromo

Jangan lupa sholat

Bromo Sunrise 2

Bromo Sunrise 2 : gue dan Nana

Ngos-ngosan Bagian 2 Menuju Puncak Bromo

Nama Bromo sendiri diambil dari Brahma, dewa pencipta dan pengetahuan, cocok menggambarkan keanggunan gunung yang diagungkan suku Tengger yang mendiami daerah ini. Dari Penanjakan 2, jeep mengantar kami mendekati Bromo. Dari tempat parkir jeep, kurang lebih 3 km jarak menuju puncak Bromo. Ngos-ngosan deg-degan gue kian menjadi-jadi (*lebayyy.org). Dan gue masih keukeuh berdoa pingin ngerasain dua kaki ini yang membawa diri ke puncak, bukan kuda. Bunegara dan Mbakhani mendoakan dari bawah. Nana, Papahnegara dan Mbak Nanie jadi tim sukses yang terus menyemangati. Setiap kali gue berhenti ngatur napas, mereka tersenyum simpul dari atas, dan tukang-tukang kuda selalu aja mendekat menawarkan jalan pintas. Hahaha

senyum sejenak sebelum ngos-ngosan lagi menuju Puncak Bromo

Senyum sejenak sebelum ngos-ngosan lagi menuju Puncak Bromo

menghela napas sebelum meniti tangga Bromo

Menghela napas sebelum meniti tangga

Mentari terang-benderang menyinari, hawa hangat menjalari tubuh. Lucunya setiap gue lagi diam ngos-ngosan Mbak Nanie dengan tekun wkwkwkwk ngajakin berfoto ria. Rupanya itu cara unik si Mbak nyemangatin gue! Tiba di depan ratusan anak tangga, pendakian terasa lebih mudah. Perlahan tapi pasti, setelah menginjak kira-kira 250 anak tangga, sampailah gue di depan kawah Bromo. Kawah yang terus mengepulkan asap, yang setia didampingi gunung Batok di sebelahnya. Kabarnya Bromo masih aktif dan terakhir batuk-batuk tahun 2011. Pemandangan alam indah nan megah ciptaan Allah terlihat kembali… ruarr biasa! Baru mengerti kenapa orang berulang kali datang lagi. Nah, pas menuruni Bromo, baru deh gue naek kuda. Kudu punya pengalaman menunggangi kuda Bromo juga dong hihihi.

bergaya dengan jeep yang mengantar keliling Bromo

Bergaya dengan jeep yang mengantar keliling Bromo

Selain lautan pasir berbisik, Bromo dikelilingi oleh hamparan lembah-lembah perbukitan hijau berbunga yang luar biasa cantik. Gue sengaja nangkring di atas jeep demi menikmatinya. Ijo-ijo indaaaaaaah! Banyak yang bilang mirip seperti di film teletubbies, tapi koq gue malah jadi keinget gambar-gambar pemandangan Kashmir ya? Jalan menuju Coban (air terjun) Pelangi juga nggak kalah indah ijo-ijonya. Sayangnya karena keterbatasan waktu (butuh 5 jam berjalan kaki pp ke air terjun itu), kami hanya melewatinya, meneruskan perjalanan ke kebun Apel. Bunegara sudah pasti borong apel dong demi rakyatjelata hehehe.

pemandangan indah di Bromo

Ijo-ijo indaaaaaaah

Nggak terasa waktu cepat berlalu, tim tujuh yang kini menamakan diri MataRemaja 29 (terinspirasi dari 29 jam di kereta Matarmaja hehehe) kembali menuju penginapan, lalu bersiap pulang. Kereta tiba on time di stasiun Malang. Kali ini kereta lebih lengang, banyak yang memilih pulang dengan pesawat rupanya, khawatir rel ambles belum selesai diperbaiki. Ya benar KAI memberi kompensasi air mineral, biskuit Malkist Roma dan Pop Mie, tapi banyak yang menilai tidak sebanding dengan “bonus” 11 jam di kereta. Sekali lagi, lebih baik kita mengingat hikmahnya.

Lucu banget deh waktu seorang Bapak makan biskuit Malkist Roma di depan Bunegara, beliau langsung menegur, “Bapak naik kereta hari Jum’at dari Jakarta?” Si Bapak kaget, “Lha koq Ibu bisa tau?” Bunegara pun mengeluarkan senyuman imutnya. Syukur, kereta pulang menuju Jakarta nggak lagi memberikan “bonus” dan kami terus bisa bercanda sepanjang jalan, kemudian tiba dengan selamat di Jakarta. Alhamdulillaah!

Tips Bisa “Bertahan” Ceria 29 Jam di Kereta

Semua orang menginginkan kelancaran dan kemudahan dalam menempuh perjalanannya. Namun apa yang terjadi bila ada kejadian tidak mengenakkan yang menyebabkan penundaan lama? Haruskah kita bersungut kehilangan semangat, atau melanjutkan perjalanan dengan tetap fokus pada tujuan, tersenyum melihat sisi-sisi baik yang bertebaran?

  • Jangan lupa bawa cukup asupan makan dan minum, jangan terlalu kenyang (inget ke toiletnya lumayan susyee hehe) tapi jangan sampe kekurangan juga hehe
  • Jangan lupa juga bawa tisu basah, odol, obat2an secukupnya mengingat perjalanan yang panjaaang
  • Berusaha mensyukuri hal-hal yang kita terima (seperti kita serombongan diberiNya sehat selamat, teman-teman bersikap penuh dukungan dan menyenangkan dll, dll) sehingga bisa menahan diri untuk tidak banyak mengeluh
  • Selera humor yang tinggi
  • Perbanyak dzikir dan tidur yang cukup untuk menyiapkan stamina

(Tulisan dan foto-foto oleh: Melati Adidamayanti & teman2)

Bagian 1 / Bagian 2

Just a wayfarer under heaven skies, loves reading (Spirituality, Culture, Literature, Philosophy, History, etc), watching movies, listening to music, photographs collecting, traveling, trekking and social working. A heavy dreamer and 3/4 vegan 🙂 She can be reached here.
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *