Islam Perkaya Mosaik Australia – Bagian 1

Author - August 24, 2015
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone

Di negara kanguru ini, Islam dan pemeluknya laksana kepingan-kepingan kecil berkilat. Bersama kepingan lain, Islam menghadapi tantangan membentuk harmoni Australia

Permintaan maaf Perdana Menteri Australia Kevin Rudd, kepada penduduk asli (Aborigin dan Kepulauan Selat Torres), khususnya kepada Generasi yang Dicuri (stolen generation), telah menciptakan babak pencerahan dalam sejarah Australia. Ini ibarat ucapan selamat datang yang hangat bagi kami, empat muslimah yang terpilih mengikuti Muslim Exchange Program (MEP) 2008.

Saya mewakili LSM Yayasan Cahaya Martabat yang memberdayakan anak-anak dhuafa di kawasan kumuh Tambora Jakarta, berangkat bersama Zubaidah (Islamic College for Advanced Studies – Paramadina), Artati (Muhammadiyah dan Centre for Dialogue and Cooperation among Civilization) serta Yulia (Centre for Religious & Cross Cultural Studies UGM).

di depan gedung Parlemen di Canberra

Di Depan Gedung Parlemen di Canberra

Upaya Memunculkan Wajah Islam yang Ramah

Peristiwa 11 September 2001 telah merobohkan stigma sekaligus menumbuhkan rasa keingintahuan yang besar terhadap Islam. Dunia (termasuk Australia sebagai tetangga terdekat) belum mengakrabi wajah Islam negeri kita. Meski memiliki keragaman budaya yang luar biasa, Indonesia mampu bersikap toleran dan moderat sejak berabad silam. Sayangnya pemboman di Bali dan Kedutaan Australia seolah menenggelamkan wajah ramah itu.

Para pakar Indonesia seperti Prof. Virginia Hooker, Prof. MC Ricklefs dan Philip Knight tertantang memunculkan wajah Islam yang ramah. Mereka pun menggagas MEP, yang didanai oleh Australia-Indonesia Institute. Program yang bertujuan menciptakan dialog, saling pengertian dan kolaborasi positif, tidak hanya di antara umat muslim sendiri, namun juga dengan pemeluk agama lain dari kedua bangsa ini.

Zubaidah, Artati, Yulia dan saya, mealui perjalanan yang menyenangkan selama dua minggu, kami menyusuri warna-warni mosaik lewat dialog dengan beragam tokoh dan kunjungan ke berbagai organisasi. Perjalanan dimulai dari Melbourne, dilanjutkan ke Canberra dan diakhiri di Sydney.

di depan masjid di Melbourne

Di Depan Masjid di Melbourne

Pencarian Identitas di Negara Sekuler

Melbourne (ibu kota Victoria) langsung menyelubungi kami dengan suhu dingin antara 15 hingga minus 5 derajat celcius. Angin berembus kencang disertai hujan. Namun sebagai kota pelajar, dengan gedung-gedung bergaya Victoria, serta berpenduduk 3.52 juta orang, Melb memancarkan atmosfir yang membuat kami merasa betah. Betapa sering kami menjumpai senyum akrab di mana-mana.

Selain berdaya pikat besar bagi pelajar dari berbagai bangsa, Melb menjadi negara bagian yang ramah bagi para imigran. Pemerintah dan masyarakat bahu-membahu mendirikan lembaga yang mengakomodasi imigran. Kami sempat mendatangi beberapa lembaga di antaranya; Victorian Multicultural Commission, Australian Multicultural Foundation, Spectrum Migrant Resource Centre. Meski mengklaim diri sebagai negara sekuler, Oz mendukung kehidupan beragama warganegaranya, salah satunya tercermin dari undang-undang anti diskriminasi.

Walau mirip Indonesia dalam segi keragaman, sesungguhnya masyarakan muslim Australia memiliki dinamika yang berbeda. Mayoritas adalah imigran. Lima besar negara asal mereka adalah Lebanon, Turki, Afghanistan, Bosnia-Herzegovina dan Pakistan. Sekat-sekat komunitas muslim yang datang dari berbagai negara ini masih terasa kokoh. Apa lagi tak sedikit dari mereka yang berimigrasi lantaran perang. Masalah timbul ketika generasi pertama imigran itu terus membawa trauma dan keengganan untuk berbaur beradaptasi (dikenal dengan istilah frozen culture). Di sanalah peran lembaga-lembaga Islam seperti Islamic Council of Victoria dan Canberra Islamic Council menjadi berarti.

Bersama Rowan Gould & Philip Knight di Melbourne University

Bersama Rowan Gould & Philip Knight di Melbourne University

Tantangan terbesar dialami oleh generasi kedua dan ketiga dari imigran muslim yang dilahirkan dan dibesarkan di Oz. Jumlah mereka 103 ribu orang. Mereka berjuang untuk memaknai identitas. Saya terkesan ketika bertandang di Selimiye Youth Foundation dan Isik College milik komunitas Turki di Melbourne, serta Al Zahra College milik komunitas Lebanon di Sydney. Keberadaan kaum muda sebagai aktivis dan pengajar menyalakan harapan kebangkitan Islam. Di Al Zahra College misalnya, murid-murid ditanamkan rasa kebanggaan terlahir sebagai muslim. Sebagai bagian dari bangsa Oz, mereka diajarkan pula menghormati akar budaya Australia, yakni terhadap penduduk asli Aborigin dan Kepulauan Selat Torres.

Bersama Tokoh Perempuan Aborigin

Bersama Tokoh Perempuan Aborigin

Kami sempat berbincang dengan relawan dan relawati muda, mentor remaja yang tergabung dalam Ansaar Muslim Youth Mentoring Programme. Mereka generasi muda yang peduli dan berdedikasi. Subhanallah! Wujud kepedulian mereka antara lain ditunjukkan oleh Aameer Rahman dan Nazeem Husain yang menyuarakan aspirasi Islam lewat pertunjukan komedi Fear of A Brown Planet. Mayoritas penonton non muslim berkulit putih dibuat bersimpati pada Islam, sekaligus terhibur oleh guyonan mereka.

Bagian 1 / Bagian 2

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *