Islam Perkaya Mosaik Australia – Bagian 2

Author - August 26, 2015
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone

Kenangan Terindah

Di setiap kota, ada tuan rumah yang mengawal dan mengatur perjalanan kami. Mereka begitu baik dan perhatian, hingga kami menjuluki mereka “kepala sekolah” dan kami laiknya anak didik mereka hehehe. Di Melbourne ada Rowan Gould (Direktur MEP, kelahiran Jakarta yang berayah Oz dan beribu Minang) dan Brynna Rafferty-Brown, istrinya. Di Canberra ada Mbak Media Ayu dan Mas Teddy Mantoro. Sementara di Sydney ada Kuranda Seyit dan Zubeda Rahman.

Malam Seru di Melbourne

Malam Seru di Melbourne

Di Melbourne, kami dipandu secara bergantian oleh lima. Dari segi gender, usia dan latar belakang negara, mereka mencerminkan wajah muslim Oz yang berbeda. Kelima orang ini adalah Maria Bhatti, Heba Ibrahim, Erol Tuncer, Yasser Soliman dan Marwa Khalaf. Mereka adalah generasi muda berusia dua puluh tahunan yang dibesarkan di Oz (kecuali Mr. Soliman, tokoh muslim Senior Victoria). Kelima orang ini supel, berpendidikan tinggi, dan sangat aktif di berbagai organisasi sosial. Kiprah mereka tidak hanya membanggakan sesama muslim, tapi juga bagi bangsa Oz.

Menarik sekali mengenang kejadian-kejadian unik nan lucu yang kami alami. Bersama Heba, kami melewati jadwal pagi hingga petang dalam cuaca yang sangat tidak bersahabat. Angin kencang disertai hujan berhasil merobohkan pohon, bahkan nyaris menerbangkan Artati yang berbadan mungil. Kendati demikian, Rowan “sang KepSek” tetap mewajibkan kami mengunjungi Moonlit Sanctuary, cagar alam malam hari.

Benar-benar aneh, mengunjungi kebun binatang malam-malam, di tengah cuaca seperti itu, serta lokasi nun jauh dari Melb pula. Tapi kami dan Heba pantang mundur. Bayangkan, lima dara merambah jalanan gelap gulita menuju cagar alam yang belum pernah didatangi sebelumnya. Alhamdulillah, kami berhasil sampai di Moonlit Sanctuary. Ajaibnya, hujan pun reda dan angin tak lagi bertiup kencang. Sepertinya semesta mendukung silaturahim kami dengan binatang-binatang Oz, antara lain kangguru, koala, posum dan wombat.

silaturahim dengan fauna Oz di malam hari

Silaturahim dengan Fauna Oz di Malam Hari

Esoknya, bersama Erol kami melewati hari yang diwarnai canda dan gelak tawa. Erol punya ketertarikan besar terhadap Indonesia. Sepanjang jalan ia memutar lagi-lagu pop Indonesia, seperti Kenangan Terindah dari Samsons. Sebagai orang media, pemuda berdarah Turki yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial internasional ini, gemar memotret. Setelah kegiatan kami usai, tengah malam secara khusus ia mengajak kami ke Federation Square. Di situ kami bergaya bak model. Seru sekali.

Kala Muslimah Indonesia Bicara

Saya senantiasa bermohon agar Allah mendekatkan saya dengan orang-orang yang tulus. Alhamdulillah doa itu terjawab selama perjalanan ini. Sebagai pemakai jilbab, kami merasa aman pergi ke mana-mana, selalu bertemu dengan orang-orang yang berpikiran terbuka, ingin membantu.

Saya pribadi juga bersyukur karena mendapat rekan-rekan serombongan yang cerdas, pede, dinamis dan humoris. Kami berempat kompak! Tanpa pernah berunding sebelumnya, dalam beberapa wawancara kami menggemakan suara yang sama: kebanggaan memiliki identitas sebagai muslimah Indonesia.

Benar Indonesia sedang dihantam krisis multi dimensi, tapi itu tak akan mampu melunturkan semangat kami mencintai negeri sendiri, untuk terus berkontribusi. Dalam suatu sesi wawancara oleh radio ABC dan SBS, saya mengutarakan kekaguman pada para ibu pekerja sosial yang kerap saya temui. Mereka pejuang tulus yang tidak hanya memikirkan kesejahteraan anak dan keluarga sendiri, namun juga memperhatikan nasib komunitasnya, nasib anak-anak bangsa yang lain.

Sowan dengan Sastrawan Senior Kita

Sowan dengan Sastrawan Senior Kita

Saya kemudian menikmati ketenangan a la Canberra yang berpenduduk hanya 320 ribu orang. Seperti di Melb, di kota ini saya banyak menemui orang Indonesia yang inspiratif. Mereka telah berintegrasi di Oz dengan baik namun tidak melupakan akar budaya Indonesia. Ada Nini dan Aki Achdiat Karta Mihardja (sastrawan cendikiawan) yang terus berkarya di usia lansia. Ada Mbak Media dan Mas Teddy, pasutri peneliti bersahaja penyandang gelar Ph.D yang memiliki ratusan anak asuh di daerah konflik di Indonesia. Ada Ibu Yetty, Ibu Indri, dan Ibu-ibu asal Indonesia lainnya yang selama bertahun-tahun memakmurkan masjid Canberra.

Lewat Dialog, Perbedaan Terasa Indah

St Patrick Cathedral di Melbourne

St Patrick Cathedral di Melbourne

Tidak hanya berinteraksi dengan sesama muslim, perjalanan juga membawa kami pada dialog dengan umat beragama lain, serta mengunjungi tempat-tempat ibadah mereka. Masyarakat Oz sedang gencar mempromosikan dialog lintas agama. Tak heran bila kehadiran kami mendapat sambutan di mana-mana. Kami berkunjung ke St. Patrick’s Cathedral dan sinagog Temple Beth Israel. Di St. Patrick’s Cathedral Melbourne, Rev. Dr. John Dupuche dan David Schutz penuh semangat bercerita tentang berlangsungnya acara lintas agama di Melb yang dipenuhi aura toleransi dan saling menghargai. Mereka dengan fasih mengucap kata halal ketika menyuguhkan kue-kue.

Makan Malam dengan Jewish Christian Muslim Association

Makan Malam dengan Jewish Christian Muslim Association

Di Melb, kami terlibat obrolan hangat dan seru dengan ibu-ibu yang tergabung dalam Jewish Christian Muslim Association. Kami menceritakan berbagai upaya kami dalam menebar pesan damai Islam rahmatan lil alamin. Saya dibuat terharu dengan cerita panjang Ibu Jane Lee, pemeluk Anglikan berdarah Inggris. Ia tidak setuju terhadap rasialisme. Sikap berani itu ia warisi dari kakek dan neneknya. Beliau menikahi pria Cina di saat perkawinan antarbangsa masih belum lumrah dilakukan. Pernikahan itu mendapat dukungan penuh keluarganya. Sedangkan di Canberra, kami sempat berbincang dengan Mary Porter dan Deb Foskey, dua orang ibu yang duduk di parlemen.

Saya makin percaya bahwa, dengan kekuatan dialog serta kepedulian untuk menciptakan perdamaian dan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang, perbedaan agama dan latar belakang di antara kita dapat disatukan. Saya semakin teringat pada kebesaran Allah yang telah menciptakan keberagaman dalam kita semua.

Sesungguhnya, mereka yang lain dan berbeda adalah bagian dari kita juga. Hanya dengan sikap yang tulus dan mata hati yang jernih, semua perbedaan itu akan terlihat indah, laksana warna-warni mosaik yang berkilat merefleksikan Cahaya.

Nikmatnya Sholat Berjamaah Sebagai Musafir

Nikmatnya Sholat Berjamaah Sebagai Musafir

Teks dan foto oleh: Melati Adidamayanti, seperti pernah dimuat di Majalah NooR, 2008

Bagian 1 / Bagian 2

Just a wayfarer under heaven skies, loves reading (Spirituality, Culture, Literature, Philosophy, History, etc), watching movies, listening to music, photographs collecting, traveling, trekking and social working. A heavy dreamer and 3/4 vegan 🙂 She can be reached here.
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *