Perjuangan Mencari Makanan Halal di Jepang

Author - January 10, 2018
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone

Beberapa tahun lalu saya bersama teman-teman berkesempatan berkunjung ke negeri sakura. Selain jalan-jalan, saya ingin wisata kuliner dong, yang tentunya mencari makanan halal di Jepang.

Memang sih di Indonesia sudah banyak yang jual, tapi saya berkeyakinan bahwa makanan asli suatu daerah tetap terasa berbeda bila dinikmati langsung di daerah asalnya. Dan karena Jepang memang bukan negara dengan mayoritas muslim, jadi agak sulit menemukan makanan halal disana, walaupun katanya sekarang sudah cukup mudah karena banyak restoran yang halal untuk menarik wisatawan dari negara-negara mayoritas muslim seperti Indonesia.

Saya dan teman-teman juga tidak terlalu mentargetkan harus restoran dengan plang halal karena kami tahu akan sulit dan waktu pun terbatas. Jadi untuk mencari makanan halal, kami berbekal keberanian untuk bertanya di setiap restoran apakah makanannya mengandung babi atau tidak. Masalahnya, saya dan teman-teman juga tidak ada yang fasih berbahasa Jepang, jadi wisata kuliner kami lumayan riweuh juga karena nyaris selalu bertanya dahulu di setiap tempat makan, di supermarket, dari bahasa tarzan sampai bahasa… entahlah.

Berikut kisah perjuangan kami.

Mencari Makanan Halal di Jepang dengan Sotoy Bahasa Jepang

makanan halal di jepang

Ini set makanan yang saya pesan di Shirakawa-go, nyam-nyam ya ๐Ÿ˜‹

Dulu saat kuliah saya pernah setahun belajar bahasa Jepang. Saya sedikit paham dan bisa berbicara beberapa kata dan kalimat dalam bahasa Jepang. Tapi karena sudah lama sekali tidak dipakai jadinya ya lupa-lupa ingat. Dan disana malah saya praktekkan dengan sotoynya, beberapa kali saya ucapkan “buta (babi)” dan mereka menatap saya tidak paham. Kemudian saya bertanya “Apakah makanan disini mengandung babi?” dalam bahasa Jepang, justru kami malah dikira mau makan daging babi wkwkwk. Ada pula yang menjawab pertanyaan saya panjang lebar casciscus dengan bahasa mereka dan saya hanya bisa terdiam.. ampuunn ga ngertiii ๐Ÿคฃ Siapa suruh sotoy!

Pakai Gambar Hewan-Hewan

Sebelum perjalanan, saya googling dahulu tips mencari makanan halal di Jepang. Di salah satu website (saya lupa websitenya) disebutkan kalau bisa pakai gambar. Jadi kasih liat saja gambar ayam, ikan, dan babi, lalu mereka tinggal tunjuk apakah makanan yang dijual itu mengandung daging babi atau tidak.

mencari makanan halal di jepang

Seperti ini gambar yang saya tunjukkan ke obachan, gambarnya masih tersimpan di HP saya.

Bagaimana hasilnya? Gagal total saudara-saudara wkwkwk. Kebetulan salah satu tempat makan yang kami datangi penjualnya adalah seorang obachan, nenek-nenek gitu. Ketika kami tunjukkan gambarnya, dia malah mengerenyitkan dahi dan balik bertanya itu apa, bingung lagi jelasinnya. Saya menyebut “buta niku (daging babi)” dan dia juga tampak tidak paham, kurang jelas kali ya ngomongnya. Hingga akhirnya seorang teman saya mengeluarkan suara “ngoik-ngoik” barulah sang obachan tertawa paham ๐Ÿ˜‚ ๐Ÿ˜‚

Pakai Bahasa Inggris Saja!

masakan halal di jepang
Akhirnya saya nyerah sok Jepang-jepangan, ya sudahlah tanya pakai bahasa Inggris aja, supaya emang jelas kalau kami ini turis dan ga ngerti bahasa mereka. Daripada saya mati kutu dijawab pakai bahasa Jepang lagi. Sebelumnya saya whatsapp juga seorang teman di Indonesia yang lama tinggal di Jepang, dia bilang cukup ngomong โ€œwatashi wa buta niku tabenaiโ€ gituh, yang artinya kami tidak makan daging babi. Dan ternyata kombinasi bahasa Inggris dan dengan ilmu dari teman saya ini lebih efektif buat pencarian makanan halal di Jepang ini wkwkwk. Dari kemaren-kemaren kek mestinya, bukan pas besoknya udah mau pulang gini.

Syukurlah setelah sekian drama-drama itu, kami tetap bisa menikmati jalan-jalan dan wisata kuliner makanan halal di Jepang dengan selamat. Saya pecinta masakan Jepang (bisa dicek loh review Marugame Udon saya ๐Ÿ˜† ) dan disana memang rasanya lebih enak-enaaakk. Tori karaage-nya besar-besar, gurih, dan crispy, ramen ayamnya juga beda. Ngebayanginnya aja saya sudah ngiler.

Cari Makanan Halal di Jepang? Google Translate dong, sis!

restoran halal di jepang

Jalan di Dotonbori, Osaka. (thinkstock)

Sepulang ke Indonesia saya menceritakan kisah kami ini ke teman yang jam terbang jalan-jalannya cukup tinggi. Dia hanya memandangi saya kemudian bertanya “Kenapa ga pakai Google Translate aja?” saya terdiam setengah cengo “Emang bisa ya?” “Ya bisa lah, kan ada aplikasinya, kita tinggal ngomong trus nanti ditranslate. HP-nya sodorin aja ke orang Jepangnya. Kameranya juga bisa diarahin ke huruf-huruf kanji, nanti dia translate sendiri.” Saya kembali terdiam, suasana sunyi, angin berhembus bersama dedaunan.. dan seketika saya merasa bagai orang paling dodol sejagat.

Kalau tau bisa kayak gitu sih ngapaiinn kemarin kami pake repot-repooot. Padahal saya sering pakai versi webnya Google Translate, tapi sama sekali ga terpikir ada aplikasinya. Duh gustiiii. Tapi ya sudahlah, kalau ga begitu mungkin perjalanan kemarin jadi kurang seru ceritanya.

Oya, untuk mencari makanan halal di Jepang ini, kalau kesana menginap dengan Airbnb, sebetulnya akan lebih mudah lagi urusannya. Kamu bisa membeli bahan makanan mentah di supermarket dan masak sendiri. Selain lebih murah juga tidak perlu khawatir lagi halal atau tidaknya. Cuma memang jadi kurang icip-icip siiih, secara buat saya icip-icip (baca : jajan) itu penting banget hukumnya wkwkwk.

Semoga kisah ini bisa membantu buat yang mencari makanan halal di Jepang ya.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *